Skip to main content
Foto: Robertus Risky/Project Arek
Reportase
Rekam Keadilan Iklim Kaum Marjinal
*Screening Film Rail Estate
Saat dunia sibuk berpaling dalam video hitungan detik, film dokumenter mengajak kita berhenti sejenak dan melihat, bahwa di balik kebisingan masih banyak persoalan sosial yang belum terselesaikan. Memberi jeda waktu untuk memahami bagaimana pergulatan hidup kaum marjinal di sudut kota ini.

DI TEPI REL KERETA, di perkampungan padat penduduk Dupak Magersari, seorang ibu rumah tangga melangkah masuk ke rumah petaknya yang sempit dan sesak oleh perabot. Hal pertama yang ia lakukan adalah menyalakan kipas angin yang menempel di dinding.

Di rumah itu, lima hingga tujuh kipas angin berderet dan berputar nyaris tanpa jeda, 12–24 jam setiap hari. Krisis iklim memang terlampau asing untuk dipahami warga Dupak Magersari. Meski tak tahu apa itu krisis iklim, mereka merasakan dampaknya.  

Setiap bulan, warga harus mengeluarkan Rp100 ribu hingga Rp200 ribu hanya untuk listrik, yang sebagian besar digunakan untuk menjaga udara di dalam rumah tetap bergerak. Belum lagi dampak yang ditimbulkan paparan kipas angin yang terus-menerus. 

Itu adalah salah satu adegan dalam film “Rail Estate”, karya Nathalie Celine Gunawan dan mahasiswa Universitas Kristen (UK) Petra lainnya, yang diputar di CGV Maspion Square pada Kamis, 12 Februari 2026.

Melalui layar lebar, “Rail Estate” menggambarkan warga Dupak Magersari yang terhimpit di antara rel kereta dan kepungan panas Urban Heat Island (UHI), fenomena yang membuat suhu kawasan perkotaan lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya.

Suasana screening film, salah satunya "Rail Estate" di CGV Maspion Square pada Kamis, 12 Februari 2026. Film dokumenter ini, berhasil mengalihkan tugas kuliah menjadi medium advokasi isu keadilan iklim bagi warga rentan atau kaum marjinal di Surabaya. (Rangga Prasetya Aji Widodo/Project Arek)

Di salah satu bagian film ditunjukkan bahwa suhu di Dupak Magersari, yang minim ruang terbuka hijau (RTH), dapat mencapai 39 derajat Celsius. Angka itu lebih tinggi dibandingkan kawasan lain di kota, seperti taman-taman publik, yang rata-rata berada di kisaran 35 derajat Celsius. Selisih suhunya mencapai 3–4 derajat Celsius.

Padahal, Surabaya mengklaim diri sebagai kota hijau atau Green City dengan capaian RTH sebesar 22 persen per 2022. Film dokumenter ini jujur merekam kehidupan kaum marjinal di sudut Kota Surabaya yang metropolis ini. Mereka terabaikan, dianggap bak "hama".

Koordinator Arkom Jatim, Puspitaningtyas Sulistyowati menjelaskan, film “Rail Estate” ini merupakan diseminasi dari tugas kuliah mahasiswa UK Petra. Film dokumenter "Rail Estate" menjadi rekaman ingatan kolektif warga kota.

Sekaligus Strategi Advokasi Warga

Film "Rail Estate" mengangkat resiliensi warga Dupak Magersari dalam menghadapi dampak berlapis, mulai dari kemiskinan, konflik lahan, hingga fenomena UHI. Film dokumenter ini, meskipun tugas kuliah, menjadi bagian dari advokasi hak-hak warga.

Konflik lahan di Dupak Magersari, melibatkan sengketa yang telah berlangsung puluhan tahun antara warga dan pedagang dengan PT KAI terkait penggunaan lahan di bantaran rel aktif sejak 1970.

Warga menolak penggusuran untuk proyek jalur ganda atau double track karena merasa telah lama menempati lokasi tersebut dan menganggapnya sebagai ruang hidup. Sementara itu, PT KAI merujuk pada aturan sterilisasi jalur kereta api sebagai dasar penertiban.

“Jelas, itu memperlihatkan daya juang dan kreativitas warga dalam menghadapi berbagai keterbatasan untuk menciptakan kampung yang layak huni dan berkelanjutan,” kata Tyas, panggilan akrabnya.

Selama proses pembuatan, film ini melibatkan warga sebagai aktor utama, mulai dari diskusi ide hingga menjadi pengisi atau pemeran dalam film. Tak lupa, “Rail Estate” ini juga menghadapi tantangan dalam proses pembuatannya.

Foto bersama kelompok mahasiswa pembuat film "Rail Estate" dengan warga Dupak Magersari serta Arkom Jatim di depan pamflet rangkaian film Titik Buta di CGV Maspion Square, Kamis, 12 Februari 2026. (Rangga Prasetya Aji Widodo/Project Arek)

“Misalnya, keterbatasan waktu serta penyesuaian konteks agar mudah dicerna oleh berbagai kalangan, terutama kelompok menengah atas hingga para pemangku jabatan,” imbuh lulusan S2 Perancangan Kota di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tersebut.

Baginya, krisis iklim adalah kenyataan, tak bisa ditawar. Sebab, salah satu kelompok yang paling terdampak ialah warga miskin kota yang termarginalkan, seperti warga Dupak Magersari.

Karena itu, pemangku kebijakan semestinya membuka ruang dialog untuk merumuskan solusi kreatif terkait krisis iklim ini, agar kebijakan yang dihasilkan selaras dengan kondisi riil di lapangan sekarang.

“Sudah saatnya hadir inovasi kebijakan yang lebih progresif, adaptif, dan berbasis komunitas agar mampu merespons perubahan dan krisis yang terjadi dengan cepat,” ujarnya.

Tyas berharap masyarakat luas dan para pemangku jabatan bersedia membuka akses kerja sama untuk membangun komunikasi dan kolaborasi. Ia juga berharap warga kampung lain yang senasib dapat terinspirasi untuk berjejaring serta saling menguatkan.

BACA JUGA : Bergulat Hidup di Jalur Maut

“Ke depan, direncanakan untuk mengadakan kegiatan serupa dan terbuka untuk berkolaborasi dengan komunitas lain,” imbuhnya.

Staff Arkom Jatim, Jazilia Hikmi Nur Aqidah yang telah menonton film “Rail Estate” memberikan tanggapan. Baginya, film ini menarik karena menyoroti resiliensi warga Dupak Magersari dalam menghadapi tantangan hidup di perkotaan Surabaya, khususnya UHI atau panas perkotaan.

“Meskipun tinggal di kawasan yang sempit dan terdampak UHI, mereka menunjukkan kreativitas yang luar biasa untuk meningkatkan kualitas hidup,” kata lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut, selesai menonton.

Kesadaran Kolektif Hadapi Panas Perkotaan

Warga Dupak Magersari memiliki kesadaran kolektif untuk menghadapi kondisi lingkungan mereka yang panas. Melalui heat diary dan perancangan hunian yang lebih nyaman dengan maket sederhana atau co-design, warga terbuka untuk memahami situasi yang dihadapi dan berupaya melakukan sesuatu untuk meningkatkan kualitas hidup.

Kata Jazilia, salah satu contoh menarik ialah setiap renovasi rumah yang dilakukan secara gotong-royong. Itu menunjukkan kekuatan komunitas dalam menghadapi tantangan panas perkotaan. Warga Dupak Magersari tidak hanya bertahan, tetapi juga beradaptasi dan berinovasi, menciptakan ruang hidup yang lebih nyaman di tengah keterbatasan.

“Warga Dupak Magersari menjadi contoh bahwa perubahan bisa dimulai dari komunitas itu sendiri,” tutupnya.

Andra Diantoro (37), warga Dupak Magersari berswafoto di depan pamflet film "Rail Estate". (Rangga Prasetya Aji Widodo/Project Arek)

Warga Dupak Magersari, Andra Diantoro (37) merasa puas, senang, dan terkesan dengan film “Rail Estate” yang dianggap setara dengan garapan rumah produksi, meskipun mengangkat kondisi kampung yang apa adanya.

“Film ini sangat mewakili suara dan kondisi nyata warga, termasuk cuaca, aktivitas sehari-hari seperti anak-anak bermain di rel dan ibu-ibu yang bekerja, hingga mimpi-mimpi masyarakat setempat,” tegasnya, usai menonton film.

Ya, salah satu hal yang paling berkesan sekaligus membanggakan adalah keberadaan pengusaha dandang di kampung tersebut, yang juga disorot dalam film. Usaha itu menjadi sumber mata pencaharian khas warga setempat.

“Warga berharap film ini dapat membantu proses perizinan dan bantuan fisik yang selama ini terkendala oleh status tanah, serta membuat pemerintah tidak meremehkan potensi kampung tersebut,” tegasnya.

Tak Hanya Satu, Tapi Tiga Film

Dosen pengampu Mata Kuliah Produksi Film Dokumenter UK Petra, Daniel Budiana menjelaskan, film “Rail Estate” merupakan salah satu bagian dari rangkaian film dokumenter berjudul Titik Buta, yang diputar di waktu yang sama.

Judul Titik Buta dipilih sebagai metafora agar penonton dapat melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda, kata Daniel, yang selama ini kerap luput dari perhatian publik.

Di dalam Titik Buta, ada tiga film dokumenter, yang menawarkan perspektif unik, menyentuh, dan mengajak penonton menyelami sisi lain Surabaya. Ketiganya fokus pada konflik sosial, setiap karya berupaya membedah realitas yang ada di balik hiruk-pikuk kota.

Dosen pengampu Mata Kuliah Produksi Film Dokumenter Universitas Kristen (UK) Petra, Daniel Budiana, mengenakan kaos hitam, jaket putih, dan kacamata, berpose di depan pamflet rangkaian film Titik Buta. (Rangga Prasetya Aji Widodo/Project Arek)

Ya, proyek ini merupakan tugas akhir kelas produksi film dokumenter bagi mahasiswa Semester 5, Pogram Studi Ilmu Komunikasi UK Petra. “Proses pengerjaannya memakan waktu sekitar 4 hingga 5 bulan, mulai dari riset hingga pascaproduksi, dengan setiap kelompok terdiri dari 5-6 orang,” katanya.

Selain “Rail Estate”, ada karya berjudul “All You Can’t Eat” garapan Whitnie Odelyn Siauw dan mahasiswa UK Petra lainnya. Dokumenter ini menyoroti ironi antara tingginya angka food waste dengan masih banyaknya masyarakat yang kesulitan mengakses makanan layak.

“Melalui film ini, mahasiswa membongkar anggapan bahwa pemborosan makanan adalah konsekuensi wajar dari gaya hidup modern, sekaligus menunjukkan bahwa isu ini merupakan ‘titik buta’ yang berdampak besar bagi sosial maupun ekologis,” tegas Daniel.

Lalu, ada karya bertajuk “Ini Belum Selesai”, Shanelle Keisha Susanto dan mahasiswa UK Petra lainnya, memotret getirnya perjuangan warga Tambak Bayan. Sebuah kampung pecinan tertua di Surabaya. Sejak 2009, warga terjebak dalam pusaran sengketa tanah melawan pihak swasta yang mengancam ruang hidup mereka.

Menariknya, film ini tidak hanya merekam konflik hukum, tetapi juga menyoroti sosok Suseno Karja dan warga lainnya yang memilih jalur kesenian sebagai napas perlawanan sosial mereka.

“Film ini merekam realitas individu atau kelompok yang berada dalam situasi transisi tanpa kepastian, sekaligus refleksi kegagalan sistem dalam memberikan ruang penyelesaian yang adil,” imbuhnya.

Pamflet "All You Can't Eat" rangkaian film Titik Buta di CGV Maspion Square, Kamis, 12 Februari 2026. (Rangga Prasetya Aji Widodo/Project Arek)

Film-film ini biasanya ditahan selama dua tahun untuk diikutsertakan dalam International Film Festival. Saat ini, hampir semua film telah mendapatkan status official selection di festival film internasional dan beberapa sudah mendapatkan penghargaan atau lorel.

Di sisi lain, screening ini dilakukan untuk menciptakan ekosistem film yang sehat melalui ruang diskusi dan masukan. Untuk masyarakat luas, film-film ini rencananya akan dirilis di saluran YouTube Petra TV setelah masa dua tahun kompetisi selesai.

“Melalui ajang internasional, penyelenggara berharap khalayak luar negeri dapat mengetahui keunikan dan realitas sosial yang ada di Surabaya dan Indonesia. Selain itu, diharapkan muncul inovasi cerita dan infrastruktur yang berbeda untuk pelaksanaan di tahun-tahun mendatang,” tegasnya.

Sejak tahun 2021, Program Studi Ilmu Komunikasi secara rutin memproduksi film dokumenter melalui mata kuliah "Produksi Film Dokumenter". Inisiasi awal kegiatan screening ini berasal dari seorang alumnus bernama Nicolas dan rekan-rekannya.

Pamflet "Ini Belum Selesai" rangkaian film Titik Buta di CGV Maspion Square, Kamis, 12 Februari 2026. (Rangga Prasetya Aji Widodo/Project Arek)

Hingga saat ini, total terdapat 19 film yang telah diproduksi bersama mahasiswa angkatan 2023, UK Petra. Dari jumlah tersebut, 13 film telah mendapatkan official selection baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Secara khusus, tiga film yang diputar pada malam tersebut baru saja mendapatkan kabar terpilih sebagai official selection di Inggris (UK),” tegasnya.

Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk menampilkan karya, tetapi juga menjadi ajang diskusi. Para penonton dan tamu undangan diharapkan dapat memberikan masukan dan saran kepada tim produksi untuk menyempurnakan karya mereka.

Dekan Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif UK Petra, Dwi Setiawan pun menanggapi mengenai rangkaian film Titik Buta. Ia menyampaikan, apresiasi kepada subjek dokumenter, seperti warga Tambak Bayan dan warga “Rail Estate”, yang telah membuka pintu bagi mahasiswa untuk berkarya.

Proses pembuatan film ini dinilai dapat menghadirkan kerendahhatian intelektual mahasiswa. Melalui karya ini, mahasiswa diajak untuk berhenti sejenak menjadi narsisme dan mengalihkan perhatian mereka untuk mendengarkan masalah orang lain serta mempelajari kompleksitas realita di luar kelas.